Tuesday, January 29, 2019

KAOS KAKI BOLONG (Naskah Drama Pendek)


KAOS KAKI BOLONG
(Karya Zamzam Almubarok)

BABAK 1
ISTRI        : semua persiapan sudah selesai, saatnya mama berangkat ke dubai, pah.
BAPAK    : Seharusnya perusahaan kita itu dikelola anak-anak kita. Bapak punya firasat kurang baik, rasa-rasanya kita akan berpisah, mah.
ISTRI        : lho, kan anak-anak kita masih sekolah! kalau masalah firasat itu mah tergantung sama sutradara dan penulis naskah, pah. Selebihnya kita serahkan kepada yang Maha Kuasa,bp jangan berfikir yang bukan-bukan. Bapak akan baik-baik saja.
BAPAK    : yah, semoga saja
ISTRI        : Ibu berangat dulu ke dubai untuk seminggu lamanya. Jangan sampai ayah telat minum obat. Icih, jang sobar. Jaga rumah baik-baik. Nyonya berangkat dulu.
SOBAR    : Baik nyonya
BABAK 2
BAPAK    : sei sekali, pada kemana tetangga ucup, Oman, Icih, Sobar!
KOOR     : hadir, gan. Aya! Siap 86. Bagaimana gan?
BAPAK    : Istri cantik bukan jaminan, kalau jauh tetap saja kesepian. Harta berlimpah pikiran juga bertambah. Kalau sudah tua pesakitan begini dunia menjadi tidak ada artinya. Pada kemana anak-anak saya icih.
ICIH         : lagi latihan drama katanya di rumah bi kokom.
BAPAK    : Suruh mereka cepat pulang, icih.
ICIH         : segera agan, saya sms.
BAPAK    : emh kanca! Saya mau minta maaf firasat ini semakin kuat saja. Ini sakit tak kunjung sembuh, sudah segala obat diminum tak berpengaruh. Firasat bapa... sebentar kagi...
KOOR     : Sebentar lagi?
BAPAK    : Rasanya...
KOOR     : Rasanya bagaimana, gan....
BAPAK    : (batuk) bapak tidak sanggup meneruskan,... bapak keburu sedih... kursi, jang sobar, kemana kursi? Mengapa di rumah tidak ada kursi sama sekali? Bapak kan orang kaya luar biasa.
SOBAR    : begini pa, sebenarnya ...
BAPAK    : kita ini bagaimana jang sobar? Cepat jawab! Hubbudunya memang terlarang, tapi kalau di rumah sama sekali ga ada kursi itu keterlaluan.
SOBAR    : kita bukan berada di rumah, tapi di panggung, gan!
BAPAK    : Cukup jang sobar! Kamu sama saja seperti istri saya, selalu mengaitkan hidup dengan sandiwara... dengar kanca! Mau bermain drama atau bukan, kenyataannya dunia ini adalah panggung sandiwara.
BAPAK BERNYANYI – BABAK 3
PUTRI      : assalamualaikum. Ayah menyuruh kami pulang? Ada apa, yah?
PUTRA    : iya ayah, ada apa. Tetangga juga pada ngumpul di sini, bawa alat musik lagi.
BAPAK    : kalian duduklah, ayah akan berwasiat.
BAPAK    : begini anak-anakku, kalau kelak ayah meninggal. Berikanlah setengah dari harta ayah kepada ibu bapak guru sekolah. Sisanya, sudah ayah percayakan kepada ustadz buat pembagian warisnya.
PUTRI      : mengapa tidak disumbangkan kepada fakir miskin, yah?
BAPAK    : ngasih uang kepada fakir miskin memang baik, tapi tidak memberi solusi. Lebih baik memperhatikan ibu bapak guru bangsa. Ayah kecewa kepada pemerintah, kepada para calon pemimpin yang sekarang mulai rajin berkompanyeu. Tidak ada satu kepalapun yang serius memperhatikan kesejahteraan para guru. Padahal itulah intisari dari semua persoalan bangsa ini. apabila bangsa ini abai terhadap guru-guru bangsa, sesungguhnya sedang bergerak menuju kehancurannya. (batuk-batuk)
BAPAK    : Selanjutnya anak-anakku! Jika ayah sudah dipanggil Yang Maha Kuasa, tolong pakaikan kaos kaki kesayangan ayah. Walaupun kaos kaki ini sudah robek, ayah ingin memakai barang kesayangan semasa ayah bekerja di kantor. Tepuk perkusi
BABAK 4
KOOR : Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
PUTRA    : Sesuai wasiat ayah, ayah ingin kaos kaki ini dipasang di kaki ayah
USTADZ  : maaf, nak. Secara syariat hanya dua lembar kain putih saja yang boleh dipakaikan kepada jenazah
PUTRA    : tapi bagaimana dengan wasiat ayah, pak ustadz?
PUTRA    : iya, buktinya selain kain. Pada jenazah ayah juga dipasang kapas.
USTADZ  : kapas berbeda dengan kain, nak. Ini tentang syariat, tidak bisa tawar menawar.
PUTRA    : percayalah pa ustadz, dipakaikan atau tidak kan tidak ada pengaruhnya bagi ayah?
USTADZ  : tapi ada pengaruhnya bagi saya, nak. Berarti saya membolehkan sesuatu yang sudah jelas dilarang agama.
Datang ibu dan menangis
PUTRI      : ibu kan baru kemarin berangkat ke dubai. Kok sudah di sini lagi?
ISTRI        : itu betul nak, kan diceritakan ibu berangkat ke dubai.  Jadi sekarang, diceritakan ibu sudah pulang dari dubai.
KOOR     : OOOH
USTADZ  : maaf bu, jenazah harus segera dikebumikan. Semasa hidup, bapak mewasiatkan agar putra putri ibu memakaikan kaos kaki bolong ini. tetapi secara syariat hal itu tidak dibenarkan.
ISTRI        : sebenarnya, sebelum bapak diceritakan meninggal. Bapak kirim email ke saya. Isinya: anak-anakku pasti sekarang kalian sedang bingung karena dilarang memakaikan kaos kaki robek kepada mayat ayah. Lihatlah anak-anakku, padahal harta ayah banyak, uang berlimpah, tanah dan sawah di mana-mana, tetapi tidak ada artinya ketika ayah sudah mati bahkan kaus kaki robek saja tidak boleh di bawa mati. Begitu tidak berartinya dunia kecuali amal kebaikan kita anak-anakku.
KOOR     : istighfar


No comments:

Post a Comment