KAOS KAKI BOLONG
(Karya Zamzam Almubarok)
BABAK 1
ISTRI : semua
persiapan sudah selesai, saatnya mama berangkat ke dubai, pah.
BAPAK : Seharusnya
perusahaan kita itu dikelola anak-anak kita. Bapak punya firasat kurang baik,
rasa-rasanya kita akan berpisah, mah.
ISTRI : lho, kan anak-anak
kita masih sekolah! kalau masalah firasat itu mah tergantung sama sutradara dan
penulis naskah, pah. Selebihnya kita serahkan kepada yang Maha Kuasa,bp jangan
berfikir yang bukan-bukan. Bapak akan baik-baik saja.
BAPAK : yah, semoga
saja
ISTRI : Ibu
berangat dulu ke dubai untuk seminggu lamanya. Jangan sampai ayah telat minum
obat. Icih, jang sobar. Jaga rumah baik-baik. Nyonya berangkat dulu.
SOBAR : Baik nyonya
BABAK 2
BAPAK : sei sekali,
pada kemana tetangga ucup, Oman, Icih, Sobar!
KOOR : hadir, gan.
Aya! Siap 86. Bagaimana gan?
BAPAK : Istri cantik
bukan jaminan, kalau jauh tetap saja kesepian. Harta berlimpah pikiran juga
bertambah. Kalau sudah tua pesakitan begini dunia menjadi tidak ada artinya.
Pada kemana anak-anak saya icih.
ICIH : lagi latihan
drama katanya di rumah bi kokom.
BAPAK : Suruh mereka
cepat pulang, icih.
ICIH : segera
agan, saya sms.
BAPAK : emh kanca!
Saya mau minta maaf firasat ini semakin kuat saja. Ini sakit tak kunjung
sembuh, sudah segala obat diminum tak berpengaruh. Firasat bapa... sebentar
kagi...
KOOR : Sebentar
lagi?
BAPAK : Rasanya...
KOOR : Rasanya
bagaimana, gan....
BAPAK : (batuk) bapak
tidak sanggup meneruskan,... bapak keburu sedih... kursi, jang sobar, kemana
kursi? Mengapa di rumah tidak ada kursi sama sekali? Bapak kan orang kaya luar
biasa.
SOBAR : begini pa,
sebenarnya ...
BAPAK : kita ini
bagaimana jang sobar? Cepat jawab! Hubbudunya memang terlarang, tapi kalau di
rumah sama sekali ga ada kursi itu keterlaluan.
SOBAR : kita bukan
berada di rumah, tapi di panggung, gan!
BAPAK : Cukup jang
sobar! Kamu sama saja seperti istri saya, selalu mengaitkan hidup dengan
sandiwara... dengar kanca! Mau bermain drama atau bukan, kenyataannya dunia ini
adalah panggung sandiwara.
BAPAK BERNYANYI – BABAK
3
PUTRI : assalamualaikum.
Ayah menyuruh kami pulang? Ada apa, yah?
PUTRA : iya ayah, ada
apa. Tetangga juga pada ngumpul di sini, bawa alat musik lagi.
BAPAK : kalian
duduklah, ayah akan berwasiat.
BAPAK : begini
anak-anakku, kalau kelak ayah meninggal. Berikanlah setengah dari harta ayah
kepada ibu bapak guru sekolah. Sisanya, sudah ayah percayakan kepada ustadz
buat pembagian warisnya.
PUTRI : mengapa
tidak disumbangkan kepada fakir miskin, yah?
BAPAK : ngasih uang
kepada fakir miskin memang baik, tapi tidak memberi solusi. Lebih baik
memperhatikan ibu bapak guru bangsa. Ayah kecewa kepada pemerintah, kepada para
calon pemimpin yang sekarang mulai rajin berkompanyeu. Tidak ada satu kepalapun
yang serius memperhatikan kesejahteraan para guru. Padahal itulah intisari dari
semua persoalan bangsa ini. apabila bangsa ini abai terhadap guru-guru bangsa,
sesungguhnya sedang bergerak menuju kehancurannya. (batuk-batuk)
BAPAK : Selanjutnya
anak-anakku! Jika ayah sudah dipanggil Yang Maha Kuasa, tolong pakaikan kaos
kaki kesayangan ayah. Walaupun kaos kaki ini sudah robek, ayah ingin memakai
barang kesayangan semasa ayah bekerja di kantor. Tepuk perkusi
BABAK 4
KOOR : Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
PUTRA : Sesuai wasiat
ayah, ayah ingin kaos kaki ini dipasang di kaki ayah
USTADZ : maaf, nak.
Secara syariat hanya dua lembar kain putih saja yang boleh dipakaikan kepada
jenazah
PUTRA : tapi
bagaimana dengan wasiat ayah, pak ustadz?
PUTRA : iya, buktinya
selain kain. Pada jenazah ayah juga dipasang kapas.
USTADZ : kapas berbeda dengan
kain, nak. Ini tentang syariat, tidak bisa tawar menawar.
PUTRA : percayalah pa
ustadz, dipakaikan atau tidak kan tidak ada pengaruhnya bagi ayah?
USTADZ : tapi ada
pengaruhnya bagi saya, nak. Berarti saya membolehkan sesuatu yang sudah jelas
dilarang agama.
Datang ibu dan menangis
PUTRI : ibu kan
baru kemarin berangkat ke dubai. Kok sudah di sini lagi?
ISTRI : itu betul
nak, kan diceritakan ibu berangkat ke dubai.
Jadi sekarang, diceritakan ibu sudah pulang dari dubai.
KOOR : OOOH
USTADZ : maaf bu,
jenazah harus segera dikebumikan. Semasa hidup, bapak mewasiatkan agar putra
putri ibu memakaikan kaos kaki bolong ini. tetapi secara syariat hal itu tidak
dibenarkan.
ISTRI :
sebenarnya, sebelum bapak diceritakan meninggal. Bapak kirim email ke saya. Isinya:
anak-anakku pasti sekarang kalian sedang bingung karena dilarang memakaikan
kaos kaki robek kepada mayat ayah. Lihatlah anak-anakku, padahal harta ayah
banyak, uang berlimpah, tanah dan sawah di mana-mana, tetapi tidak ada artinya
ketika ayah sudah mati bahkan kaus kaki robek saja tidak boleh di bawa mati.
Begitu tidak berartinya dunia kecuali amal kebaikan kita anak-anakku.
KOOR : istighfar
No comments:
Post a Comment