BERTAMU
DI BILIK ATM
(Karya: Zamzam Almubarok)
Menjelang
Hari Raya Idul Fitri, sebagian besar PNS mengantri di depan pintu ATM. Mereka hendak
mengambil gaji 13 dan tunjangan sertifikasi di samping gaji pokok yang biasa mereka terima setiap
bulannya. Tampak raut wajah berbunga-bunga, saling lempar senyum dan canda.
Hanya
Pak Anwar yang tampak kurang bersemangat, raut wajahnya membawa selusin
keraguan, dia mengambil barisan paling belakang, dilihatnya 20 orang mengantri di depan, sesekali dia melihat ke
belakang seolah hendak pulang saja dan mengurungkan niatnya mencairkan uang
gaji pada hari itu.
Pak
Adi, seorang guru PNS baru tiba di lokasi. Pak Anwar cukup baik mengenal Pak
Adi, walaupun mengajar di sekolah yang berbeda, mereka sama-sama berstatus
sebagai tenaga pendidik. Bedanya, Pak Anwar bukan PNS, Pak Anwar adalah Guru Madrasah
Tsanawiyah yang sudah berhak mendapatkan tunjangan sertifikasi 1,5 juta setiap
bulannya.
“Kebetulan
ada Pak Anwar. Sudah lama mengantri, Pak?” Tanya Pak Adi.
“Sudah
cukup lama, Pak. Sekitar setengah jam. Tadi mesin ATM sempat macet, tetapi
sekarang sudah diperbaiki.” Jelas Pak Anwar agak lesu.
“Pak
Anwar mau mengambil uang sertifikasi, kan? Tanya Pak Adi
“Iya,
Pak. Mudah-mudahan kali ini sudah ada. Soalnya sudah 5 bulan belum cair” jelas
Pak Anwar sambil tersenyum pahit
“5
bulan belum cair, Pak? Wah, kalau hari ini cair semua, jumlahnya bisa sangat
banyak, Pak.” Jelas Pak Adi membesarkan hati Pak Anwar.
“Mudah-madahan
begitu. Sebentar lagi hari lebaran, semua karyawan di Indonesia sudah menerima
hak mereka atas gaji, masa guru seperti saya ini mendapat perlakuan yang
berbeda he he” Canda Pak Anwar membuat Pak Adi menarik napas dalam.
“Betul
sekali, pak. Kalau sampai tidak cair. Kasihan juga pemerintah, perbuatan tidak
adil itu kan lebih buruk dari berbuat maksiat 60 tahun. Begitulah kata guru
ngaji saya” Kata Pa Adi
“he
he... Rupanya Pak Adi ini rajin mengikuti ta’lim. Alhamdulillah” Kata Pak Anwar
Obrolan
mereka terpotong oleh nada dering hand
phone, Pak Adi segera menerima telpon
***
Tema
menarik yang menghiasi lisan sebagian besar tetangga Pak Anwar sebelum hari lebaran
adalah berbicara seputar makanan dan pakaian. Sudah hampir wajib hukumnya,
bahwa di hari lebaran harus memakai pakaian serba baru, menghidangkan ketupat,
dan soto ayam. Demikian yang terjadi pada keluarga Pak Anwar. Hari itu, setelah
anak si mata wayang yang baru berusia 5 tahun pulang ke rumah usai bermain
dengan teman-temannya. Ama; demikianlah nama anak itu, bercerita kepada Sang Ibu,
padahal Pak Anwar hanya berada 3 langkah dari istrinya.
“Bu,
teman-teman Ama sudah beli baju lebaran, Ujang beli bajunya tiga yang ada
gambar Adit dan Jarwo, Evi beli sepatu putri salju, Dimas, Zulfi, Niko dan Susi
juga sudah pada beli baju lebaran, Ama Kapan punya baju baru.” Tanya Ama
“Iya,
Bapak nanti ambil uang dulu ke ATM, besok kita berangkat beli baju baru, ya”
Jawab
Pak Anwar mencoba menenangkan hati anaknya
“Ibu,
ATM itu siapa?” Tanya Ama masih kepada ibunya
“ATM
itu tempat bapak mengambil uang, nak” jelas ibu
“Oh...
Tapi setiap kali mau pergi, bapak selalu bilang mau ke ATM. Sering sekali bapak
ke ATM, uang bapak pasti sudah banyak, sekarang saja beli bajunya, bu!” Pinta
Ama
Pak
Anwar dan Istrinya hanya bisa tersenyum tegar, mereka harus terlihat kuat di
depan anak tercintanya. Ama Tidak boleh mendengar keluh kesah dan keputusasaan
terlontor dari mulut Pak Anwar.
Memang,
sudah dari sebelum Puasa Ramadhan Pak Anwar mondar-mandir ke ATM, entah sudah
berapa ongkos ojek dia keluarkan hanya sekedar mengecek kartu ATM yang belum
juga bertambah saldonya. Terdengar ramai diperbincangkan, tunjangan sertifikasi
sudah cair, tak terasa desas-desus
pencairan tunjangan sertifikasi di lingkungan Kementerian Agama sudah lima
bulan masih belum jelas statusnya. Pak Anwar belum patah arang. Siang itu, dia
berangkat lagi ke mesin ATM yang berjarak sekitar 7 KM dari rumahnya.
***
Antrian
di depan mesin ATM mulai surut, namun Pak Anwar merasa semakin cemas meskipun
hal itu ia balut rapih dengan raut wajah yang tenang. Dalam suasana hati yang
tidak menentu, hujan rintik turun disertai angin kencang.
“Saya
ambil uangnya besok saja, pak! Mari mampir ke rumah saya" Kata Pak Adi
terburu-buru
“Silahkan,
pak. Saya tetap di sini. Sudah tanggung menunggu” jawab Pak Anwar
Barisan
antrian di depan Pak Anwar tinggal 3 orang lagi. Namun antrian di belakang Pak
Anwar cukup panjang, ada sekitar belasan orang. ATM di sini selalu ramai setiap
harinya, karena cuma ada satu-satunya. Di kota memang banyak ATM, namun
jaraknya cukup jauh.
Walaupun
diterpa rintik hujan, antrian masih bertahan. Karena kuatnya tuntutan
kebutuhan, hujan angin bukanlah persoalan. Satu persatu mereka keluar dari
bilik ATM, tampak oleh Pak Anwar sikap ceria dengan senyum dan raut wajah penuh
suka cita. Rasa cemas di hati Pak Anwar pun mulai terobati, tidak ada
seorangpun yang terlihat olehnya kusam, hanya secercah kebahagiaan terpancar
dari orang-orang yang keluar dari bilik mesin ATM. Pak Anwar pun merasa
bahagia, rasanya, mustahil dia satu-satunya orang yang tidak bahagia di hari
itu.
***
Hujan
sudah mulai reda ketika Pak Anwar keluar dari bilik mesin ATM. Sikapnya lebih
tegar, bibirnya tersenyum, langkah kakinya tegas dan lebih bertenaga. Ia
langsung pulang dengan jalan kaki menuju rumah 7 KM jaraknya.
No comments:
Post a Comment