Tuesday, January 29, 2019

BERTAMU DI BILIK ATM (Naskah Monolog Tentang Guru Sertifikasi)


BERTAMU DI BILIK ATM
(Karya: Zamzam Almubarok)

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, sebagian besar PNS mengantri di depan pintu ATM. Mereka hendak mengambil gaji 13 dan tunjangan sertifikasi di samping  gaji pokok yang biasa mereka terima setiap bulannya. Tampak raut wajah berbunga-bunga, saling lempar senyum dan canda.
Hanya Pak Anwar yang tampak kurang bersemangat, raut wajahnya membawa selusin keraguan, dia mengambil barisan paling belakang, dilihatnya 20 orang  mengantri di depan, sesekali dia melihat ke belakang seolah hendak pulang saja dan mengurungkan niatnya mencairkan uang gaji pada hari itu.
Pak Adi, seorang guru PNS baru tiba di lokasi. Pak Anwar cukup baik mengenal Pak Adi, walaupun mengajar di sekolah yang berbeda, mereka sama-sama berstatus sebagai tenaga pendidik. Bedanya, Pak Anwar bukan PNS, Pak Anwar adalah Guru Madrasah Tsanawiyah yang sudah berhak mendapatkan tunjangan sertifikasi 1,5 juta setiap bulannya.
“Kebetulan ada Pak Anwar. Sudah lama mengantri, Pak?” Tanya Pak Adi.
“Sudah cukup lama, Pak. Sekitar setengah jam. Tadi mesin ATM sempat macet, tetapi sekarang sudah diperbaiki.” Jelas Pak Anwar agak lesu.
“Pak Anwar mau mengambil uang sertifikasi, kan? Tanya Pak Adi
“Iya, Pak. Mudah-mudahan kali ini sudah ada. Soalnya sudah 5 bulan belum cair” jelas Pak Anwar sambil tersenyum pahit
“5 bulan belum cair, Pak? Wah, kalau hari ini cair semua, jumlahnya bisa sangat banyak, Pak.” Jelas Pak Adi membesarkan hati Pak Anwar.
“Mudah-madahan begitu. Sebentar lagi hari lebaran, semua karyawan di Indonesia sudah menerima hak mereka atas gaji, masa guru seperti saya ini mendapat perlakuan yang berbeda he he” Canda Pak Anwar membuat Pak Adi menarik napas dalam.
“Betul sekali, pak. Kalau sampai tidak cair. Kasihan juga pemerintah, perbuatan tidak adil itu kan lebih buruk dari berbuat maksiat 60 tahun. Begitulah kata guru ngaji saya” Kata Pa Adi
“he he... Rupanya Pak Adi ini rajin mengikuti ta’lim. Alhamdulillah” Kata Pak Anwar
Obrolan mereka terpotong oleh nada dering hand phone, Pak Adi segera menerima telpon
***
Tema menarik yang menghiasi lisan sebagian besar tetangga Pak Anwar sebelum hari lebaran adalah berbicara seputar makanan dan pakaian. Sudah hampir wajib hukumnya, bahwa di hari lebaran harus memakai pakaian serba baru, menghidangkan ketupat, dan soto ayam. Demikian yang terjadi pada keluarga Pak Anwar. Hari itu, setelah anak si mata wayang yang baru berusia 5 tahun pulang ke rumah usai bermain dengan teman-temannya. Ama; demikianlah nama anak itu, bercerita kepada Sang Ibu, padahal Pak Anwar hanya berada 3 langkah dari istrinya.
“Bu, teman-teman Ama sudah beli baju lebaran, Ujang beli bajunya tiga yang ada gambar Adit dan Jarwo, Evi beli sepatu putri salju, Dimas, Zulfi, Niko dan Susi juga sudah pada beli baju lebaran, Ama Kapan punya baju baru.” Tanya Ama
“Iya, Bapak nanti ambil uang dulu ke ATM, besok kita berangkat beli baju baru, ya”
Jawab Pak Anwar mencoba menenangkan hati anaknya
“Ibu, ATM itu siapa?” Tanya Ama masih kepada ibunya
“ATM itu tempat bapak mengambil uang, nak” jelas ibu
“Oh... Tapi setiap kali mau pergi, bapak selalu bilang mau ke ATM. Sering sekali bapak ke ATM, uang bapak pasti sudah banyak, sekarang saja beli bajunya, bu!” Pinta Ama
Pak Anwar dan Istrinya hanya bisa tersenyum tegar, mereka harus terlihat kuat di depan anak tercintanya. Ama Tidak boleh mendengar keluh kesah dan keputusasaan terlontor dari mulut Pak Anwar.
Memang, sudah dari sebelum Puasa Ramadhan Pak Anwar mondar-mandir ke ATM, entah sudah berapa ongkos ojek dia keluarkan hanya sekedar mengecek kartu ATM yang belum juga bertambah saldonya. Terdengar ramai diperbincangkan, tunjangan sertifikasi sudah cair,  tak terasa desas-desus pencairan tunjangan sertifikasi di lingkungan Kementerian Agama sudah lima bulan masih belum jelas statusnya. Pak Anwar belum patah arang. Siang itu, dia berangkat lagi ke mesin ATM yang berjarak sekitar 7 KM dari rumahnya.
***
Antrian di depan mesin ATM mulai surut, namun Pak Anwar merasa semakin cemas meskipun hal itu ia balut rapih dengan raut wajah yang tenang. Dalam suasana hati yang tidak menentu, hujan rintik turun disertai angin kencang.
“Saya ambil uangnya besok saja, pak! Mari mampir ke rumah saya" Kata Pak Adi terburu-buru
“Silahkan, pak. Saya tetap di sini. Sudah tanggung menunggu” jawab Pak Anwar
Barisan antrian di depan Pak Anwar tinggal 3 orang lagi. Namun antrian di belakang Pak Anwar cukup panjang, ada sekitar belasan orang. ATM di sini selalu ramai setiap harinya, karena cuma ada satu-satunya. Di kota memang banyak ATM, namun jaraknya cukup jauh.
Walaupun diterpa rintik hujan, antrian masih bertahan. Karena kuatnya tuntutan kebutuhan, hujan angin bukanlah persoalan. Satu persatu mereka keluar dari bilik ATM, tampak oleh Pak Anwar sikap ceria dengan senyum dan raut wajah penuh suka cita. Rasa cemas di hati Pak Anwar pun mulai terobati, tidak ada seorangpun yang terlihat olehnya kusam, hanya secercah kebahagiaan terpancar dari orang-orang yang keluar dari bilik mesin ATM. Pak Anwar pun merasa bahagia, rasanya, mustahil dia satu-satunya orang yang tidak bahagia di hari itu.
***
Hujan sudah mulai reda ketika Pak Anwar keluar dari bilik mesin ATM. Sikapnya lebih tegar, bibirnya tersenyum, langkah kakinya tegas dan lebih bertenaga. Ia langsung pulang dengan jalan kaki menuju rumah 7 KM jaraknya.


No comments:

Post a Comment